Ketahanan Siber Indonesia: Indonesia di Pusat Pertumbuhan Ekonomi Digital ASEAN

Dr. Kartina Sury, Senior Fellow di Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), mengkaji kesenjangan dan tantangan yang dihadapi Indonesia dalam mengatasi ancaman keamanan siber dan menyampaikan rekomendasinya. Artikel ini mengacu pada penelitian terbaru dari Tech For Good Institute (TFGI) tentang ketahanan siber.

oleh Dr. Kartina Sury, Senior Fellow di Center for Indonesian Policy Studies

Dengan nilai transaksi digital Indonesia yang mencapai $77 miliar (atau 40% dari total wilayah negara) pada tahun 2022, Indonesia terus menempatkan posisinya sebagai pemain utama dalam ekonomi digital di Asia Tenggara (ASEAN). Nilai total transaksi digital diproyeksikan akan berlipat ganda menjadi $130 miliar pada tahun 2025, yang lebih lanjut mengukuhkan Indonesia sebagai kontributor signifikan bagi ekonomi digital yang dinamis di wilayah ini. Selain itu, Indonesia mendorong ekosistem rintisan (startup) yang sehat dan menduduki peringkat ke-6 secara global dalam hal jumlah perusahaan rintisan terbanyak, dengan lebih dari 2.400 perusahaan rintisan. Dalam beberapa tahun mendatang, Indonesia terus memprioritaskan transformasi digital sebagai salah satu prioritas nasional.

Namun, percepatan digitalisasi di Indonesia juga meningkatkan risiko terhadap tantangan seperti ancaman siber. Ini mencakup risiko pelanggaran data di lembaga pemerintah, badan usaha milik negara, dan sektor jasa keuangan yang berpotensi membawa dampak bagi jutaan pelanggan/nasabah. Sebagai contoh, kebocoran data dan pencurian identitas adalah kekhawatiran utama yang berkontribusi sekitar 88% dari serangan siber yang terjadi dalam tiga tahun terakhir. Laporan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) di tahun 2021 mengungkapkan bahwa 93% dari kasus kebocoran data disebabkan oleh permasalahan keamanan siber. Hal ini menggarisbawahi perlunya Indonesia untuk melakukan berbagai upaya yang akan mendorong peningkatan ketahanan siber.

Tantangan Bagi Ketahanan Siber Indonesia

Ketahanan siber Indonesia menjadi perhatian akibat ketidakpastian dalam kesiapannya akan transformasi digital di berbagai industri. Pada tahun 2022, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat hampir satu miliar serangan siber, dengan lebih dari separuh serangan terkait malware, serangan kebocoran data berkontribusi sebesar 15%, dan aktivitas trojan tercatat sekitar 10%. Lebih lanjut, di pertengahan pertama tahun 2023 saja, Indonesia tercatat telah mengalami lebih dari 347 juta kasus serangan siber, dengan jumlah kasus tertinggi disebabkan oleh insiden ransomware.

Selain ancaman serangan siber, tentunya terdapat ruang untuk memperbaiki dan menyempurnakan kerangka regulasi di Indonesia. Saat ini, hukum yang terkait dengan ketahanan siber masih bersifat terpisah. Sebagai contoh: 

  • Peraturan Pemerintah No. 71/2019 fokus pada kejahatan siber terkait transaksi elektronik, namun mengabaikan serangan terhadap infrastruktur yang kritis 
  • Peraturan Kementerian Pertahanan (Kemenhan) No. 82/2014 membahas pertahanan siber militer tetapi tidak mencakup keamanan siber publik 
  • Rencana Strategis 2020–2024 Kementerian Komunikasi dan Informatika membagi tanggung jawab antara Kominfo dan BSSN untuk pertahanan siber dan perlindungan data pribadi. Rencana ini mencakup kerangka kerja untuk teknologi yang tengah berkembang seperti kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dan pembelajaran mesin (machine learning), serta pentingnya layanan pemerintah berbasis elektronik dan implementasi teknologi seperti big data, pembelajaran mesin, dan blockchain. Namun, langkah-langkah tindakan spesifik untuk mendukung e-government (penyelenggaraan pemerintahan berbasis elektronik) tidak dijelaskan dengan terperinci, kecuali hal terkait kebutuhan untuk berkolaborasi di berbagai tingkat pemerintahan. 
  • Keputusan Presiden No. 47/2023 menekankan pada Strategi Keamanan Siber Nasional dan Manajemen Krisis Siber, dan bagian dari tujuan utama adalah melindungi ekosistem ekonomi digital nasional, meningkatkan kekuatan dan kemampuan ketahanan Keamanan Siber, serta memprioritaskan kepentingan nasional sejalan dengan upaya untuk mendukung terciptanya ranah siber global. Namun demikian, masih ada kebutuhan tata kelola lebih lanjut dalam menerapkan Risiko dan Mitigasi Siber. Pemangku kepentingan yang terlibat dalam Manajemen Krisis Siber, khususnya Penyedia Sistem Elektronik (PSE), membutuhkan instruksi pelaksanaan yang lebih komprehensif dan perencanaan teraudit untuk melindungi para konsumen.

Kajian CIPS mengungkapkan beberapa kekurangan, termasuk kebutuhan akan sumber daya manusia berkompeten diranah Kominfo, mekanisme tanggapan yang terstandarisasi, regulasi bersama perwakilan non-pemerintah, serta memperjelas mandat antara lembaga-lembaga kementerian.

Dalam hal perlindungan data pribadi, regulasi ini masih belum memaparkan dengan jelas dalam hal bagaimana masyarakat menerima informasi dalam kasus kejahatan siber atau pelanggaran data. Mekanisme komunikasi masih kurang jelas selain ketentuan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang mengatur pelaporan keuangan tahunan dan triwulanan. Selanjutnya, tidak ada pemahaman yang konsisten mengenai langkah-langkah praktis bagi bisnis, konsumen/nasabah, dan organisasi untuk menerapkan dan meningkatkan keamanan siber.

Menuju Perbaikan Ketahanan Siber di Indonesia

Terdapat beberapa pertimbangan utama bagi Indonesia untuk memperkuat posisi keamanan sibernya. Rekomendasi kebijakan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan negara untuk beradaptasi terhadap ancaman siber yang terus berkembang.

Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa membangun ketahanan siber adalah faktor penting bagi Indonesia untuk mempertahankan posisinya sebagai pusat utama ekonomi digital di Asia Tenggara. Untuk meningkatkan ketahanan, menyelaraskan regulasi siber, membangun Badan Siber Nasional, dan menerapkan cetak biru yang standar untuk perlindungan data sangatlah penting. Kemitraan internasional akan memperkuat kemampuan Indonesia untuk menanggulangi ancaman dan kerentanan siber. Sangat penting untuk mendorong pendekatan menyeluruh terhadap masyarakat melalui penciptaan landasan di mana pemerintah, bisnis dan masyarakat sipil dapat bekerjasama. Sebagai penutup, mempromosikan literasi digital dapat membantu menanggulangi kekurangan akan profesional keamanan siber dan juga meningkatkan kewaspadaan masyarakat akan risiko yang berhubungan dengan siber.   

Tentang penulis

Dr. Kartina Sury, Senior Fellow di Center for Indonesian Policy Studies. Minat risetnya adalah di ruang lingkup Ekonomi Digital, Pendidikan Keuangan, Literasi Digital dan Literasi Keuangan Digital  serta Inklusi, Perlindungan Konsumen.

Pandangan dan rekomendasi yang dituliskan dalam artikel ini semata-mata merupakan pandangan penulis dan tidak mencerminkan pandangan dan posisi dari Tech for Good Institute.

Share this uncategorized

Explore further

Discover

How is Tech for Good Institute enabling digital economy and society in Southeast Asia?

Cite this article

(2023, August 30). Ketahanan Siber Indonesia: Indonesia di Pusat Pertumbuhan Ekonomi Digital ASEAN. Tech For Good Institute. Retrieved from https://techforgoodinstitute.org/uncategorized/ketahanan-siber-indonesia-indonesia-di-pusat-pertumbuhan-ekonomi-digital-asean/

Keep pace with the digital pulse of Southeast Asia!

Never miss an update or event!

Mouna Aouri

Programme Fellow

Mouna Aouri is an Institute Fellow at the Tech For Good Institute. As a social entrepreneur, impact investor, and engineer, her experience spans over two decades in the MENA region, South East Asia, and Japan. She is founder of Woomentum, a Singapore-based platform dedicated to supporting women entrepreneurs in APAC through skill development and access to growth capital through strategic collaborations with corporate entities, investors and government partners.

Dr Ming Tan

Senior Fellow & Founding Executive Director

Dr Ming Tan is Senior Fellow at the Tech for Good Institute; where she served as founding Executive Director of the non-profit focused on research and policy at the intersection of technology, society and the economy in Southeast Asia. She is concurrently a Senior Fellow at and the Centre for Governance and Sustainability at the National University of Singapore and Advisor to the Founder of the COMO Group, a Singaporean portfolio of lifestyle companies operating in 15 countries worldwide. Ming was previously Managing Director of IPOS International, part of the Intellectual Property Office of Singapore. Prior to joining the public sector, she was Head of Stewardship of the COMO Group.


Ming also serves on the boards of several private companies, Singapore’s National Volunteer and Philanthropy Centre, Singapore Network Information Centre (SGNIC), and on the Digital and Technology Advisory Panel for Esplanade–Theatres on the Bay, Singapore’s national performing arts centre. Her current portfolio spans philanthropy, social impact, sustainability and innovation.